Kepada ASN atau masyarakat, jika ada saran/masukan/aduan/informasi terkait kepegawaian yang ingin disampaikan, monggo :

1Telepon ke 367509
2Kirim email ke bkd [ @ ] bantulkab.go.id 
3Datang langsung ke BKD 

Satu pernyataan menggelitik :

“Seorang PNS yang rajin mentaati ketentuan jam kerja tapi tidak dapat mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan dibandingkan  seorang PNS kurang mentaati ketentuan jam kerja tapi dapat mencapai kerja pegawai yang ditetapkan, mana yang lebih baik, mana yang harus dikenakan sanksi hukuman disiplin?”

Perbandingan seperti hal tersebut di atas adalah perbandingan yang keliru tetapi sering menjadi wacana yang terlontar dalam penjatuhan sanksi hukuman disiplin PNS.

Dalam PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, kewajiban masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja diatur dalam Pasal 3 angka 11, sedangkan mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan diatur dalam Pasal 3 angka 12.

PNS yang rajin mentaati ketentuan jam kerja, mentaati Pasal 3 angka 11 tapi tidak dapat mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan, melanggar ketentuan Pasal 3 angka 12.

Karena tidak dapat mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan, PNS tersebut dapat dikenakan sanksi hukuman disiplin :

  1. Hukuman disiplin sedang sesuai dengan Pasal 9 angka 12 : Apabila pencapaian sasaran kerja pada akhir tahun hanya mencapai 25% (dua puluh lima persen) sampai dengan 50% (lima puluh persen).
  2. Hukuman disiplin berat sesuai dengan Pasal 10 angka 10 : Apabila pencapaian sasaran kerja pegawai pada akhir tahun kurang dari 25% (dua puluh lima persen);

PNS yang kurang mentaati ketentuan jam kerja, melanggar Pasal 3 angka 11 tetapi dapat mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapka, mentaati Pasal 3 angka 12.

Karena kurang mentaati ketentuan jam kerja, PNS tersebut dapat dikenakan sanksi hukuman disiplin :

1.    Hukuman disiplin ringan karena melanggar Pasal 8 angka 9 huruf :

  1. teguran lisan bagi PNS malas yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 5 (lima) hari kerja.
  2. teguran tertulis bagi PNS malas yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 6 (enam) sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja.
  3. pernyataan tidak puas secara tertulis bagi PNS malas yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 11 (sebelas) sampai dengan 15 (lima belas) hari kerja;

2.    Hukuman disiplin sedang karena melanggar Pasal 9 angka 11 huruf :

  1. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun bagi PNS malas yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 16 (enam belas) sampai dengan 20 (dua puluh) hari kerja.
  2. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun bagi PNS malas yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 21 (dua puluh satu) sampai dengan 25 (dua puluh) hari kerja;
  3. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang  tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 26 (dua puluh enam) sampai dengan 30 (tiga puluh) hari kerja;

3.    Hukuman disiplin berat karena melanggar Pasal 10 angka 9 huruf :

  1. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 31 (tiga puluh satu) sampai dengan 35 (tiga puluh) hari kerja;
  2. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 36 (tiga puluh enam) sampai dengan 40 (empat puluh) hari kerja;
  3. pembebasan dari jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 41 (empat puluh satu) sampai dengan 45 (empat puluh lima) hari kerja; dan
  4. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 (empat puluh enam) hari kerja atau lebih;

KESIMPULAN :

PNS seharusnya Rajin dan Pintar. Rajin mentaati ketentuan jam kerja dan Pintar untuk mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan. Jika salah satu dari kedua hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan ada sanksi hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan, baik untuk kemalasannya dalam mentaati ketentuan jam kerja ataupun untuk tidak maksimalnya dalam mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan.

Tuliskan komentar (1 Comment)

Kedisiplinan Jarum-Jarum dalam Sebuah Arloji

Pernahkah kita memerhatikan jarum-jarum yang bergerak dalam sebuah arloji?

Dalam arloji secara umum dapat kita jumpai 3 buah jarum. Satu batang jarum panjang berukuran kurus sebagai penunjuk satuan detik, satu batang jarum panjang berukuran gemuk sebagai penunjuk satuan menit dan satu jarum pendek gemuk sebagai penunjuk satuan jam. Mereka dengan kedisiplinan penuh menapaki kewajibannya masing-masing. Si panjang kurus dengan tekun menapaki enam puluh titik untuk menggerakkan pergeseran satu titik bagi si panjang gemuk. Si panjang gemuk dengan tekun menapaki enam puluh titik untuk menggerakan pergeseran satu titik bagi si pendek gemuk. Jika semua menjalankan fungsinya dengan benar, waktu berjalan dengan sempurna.

Mari kita bayangkan ketidak disiplinan dari ketiganya. Jika si panjang kurus yang terlambat bergeser satu titik, orang akan terlambat satu detik dan itu tidak berdampak besar. Jika si panjang gemuk yang terlambat bergeser satu titik, orang akan terlambat satu menit dan itu mulai menjengkelkan. Tetapi jika si pendek gemuk yang terlambat bergeser satu titik, orang akan terlambat satu jam dan itu akan menjadi masalah besar.

Mari kita simpulkan pemaparan di atas.

Kedisiplinan adalah suatu sikap personal yang tumbuh dalam kesatuan sistem. Semakin penting kedudukannya, semakin besar pengaruh dan akibat negatif dari sikap ketidak disiplinannya. Sekecil apapun kedudukannya, ketidak disiplinan akan berakibat bagi seluruh sistem yang ada. Last but not least, pada arloji,batere adalah sumber tenaga. Sistem arloji yang baik tidak akan berarti apa-apa jika asupan gizi dari sumber batere tidak memadai.

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Keteguhan Hati (sebuah renungan)

Pagi ini, Selasa 5 Oktober 2010 kubaca satu kolom kecil di ”KOMPAS” yang membuat kelopak mataku berair. “GUS DUR dianugrahi gelar Pahlawan Nasional” begitulah kira-kira judul kolom itu. Penulis jadi merangkai-rangkai berita yang selama ini terekam dalam benak tentang sosok Gus Dur. Presiden ke-4 yang dimiliki Bangsa Indonesia, Presiden yang mempunyai masa jabatan tidak terlalu lama, namun  sangat banyak  menciptakan landasan  untuk langkah bangsa ke depan, dan itu semua dilakukan dengan mengedepankan kekuatan hati dan pikiran, karena sepengetahuan penulis, secara fisik Gus Dur memiliki beberapa keterbatasan.

Penulis jadi teringat satu penggalan Serat Wedhatama, karya Mangkunegara IV;

 

”Marma ing sabisa-bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruita-a kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger ugering kaprabon,
Abon aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri”.

dalam Bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut ;

”Karena itu sebisa-bisanya,
Bahasanya, upayakan berhati baik
Bergurulah secara baik
Yang sesuai dengan dirimu
Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,
Menjadi syarat bagi yang berbakti,
yang berlaku siang malam.”

Satu penggalan unen-unen jawi, (penulis asli jawa) yang mungkin akan mampu merubah pola pikir pola tindak apabila diresapi secara mendalam, bsik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan, maupun dalam pergaulan profesi. Mungkin akan banyak persamaan dari apa yang telah Gus Dur perlihatkan. ”Serat” ini diperkirakan ditulis di akhir tahun 1800-an, bila kita simak, cermati dan renungkan, sampai saat ini masih sangat relevan untuk dijadikan panduan dalam kita melaksanakan peran kita di dunia.

Marma ing sabisa-bisa,Bebasane muriha tyas basuki, bahwa dalam menjalani kehidupan, hati yang baik dan pikiran jernih dan positif menjadi syarat pertama. Mulailah semua peran sesuai dengan hati nurani, lakukan dengan penuh hasrat dan semangat, jangan kuatirkan akan hal lain yang meluruhkan hasrat. Yakinilah sesuatu yang dilandasi dengan hati yang baik pasti akan diikuti oleh kebaikan dan dijauhkan dari keburukan dan halangan. ”Just do it !! Tuhan YME tidak pernah khilaf, dan maha adil atas umatNya.”

”Puruita-a kang patut,Lan traping angganira”. Bahwa seluruh peran kita dalam kehidupan pasti ada ilmunya, carilah ilmu yang sesuai dengan peran yang harus kita lakukan. Ilmu ibarat lautan, tidak satupun manusia yang bisa memahami seluruh ilmu yang ada di dunia, kecuali manusia-manusia pilihanNya. Pandai-pandailah menyaring ilmu yang paling kita butuhkan sebagai bekal untuk melakukan peran kita. Setelah didasari hati yang baik, ilmu-lah yang akan menuntun kita hingga kita mampu maksimal dalam melakukan peran kita. ”Pepadanging ati iku ilmu kang utomo”.

”Ana uga angger ugering kaprabon, Abon aboning panembah, Kang kambah ing siyang ratri” Penggalan ini yang paling membuat dingin belakang leherku. 150 tahun lalu para leluwur sepertinya sudah nggrahito, bahwa suatu negara harus didasarkan atas hukum yang mengikat seluruh sendi kehidupan dan diisi oleh niatan-niatan yang baik dari seluruh warganya, untuk mewujudkan cita-cita luhur negara. ”Cermati sekelilingmu, hayati dengan nuranimu, dan lakukan perbaikan sesuai dengan ilmumu.

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Memahami Aku

Diawali dengan potongan-potongan pengertian atau pemahaman yang nampaknya seperti puzzle. Dan akan bermanfaat lebih bila di olah lagi agar memiliki pemahaman baru yang lebih luas.
Apa yang sudah diketahui ? kurang lebih seperti ini:

  1. Semua materi apabila di potong sampai ukuran terkecil akan menghasilkan materi yang sama, yaitu quark. Di dalamnya hanya ada energi yang bergetar, dengan panjang gelombang yang berbeda yang disebut quantum. Jadi yang menjadikan materi dalam realitas terlihat berbeda bentuknya adalah adanya perbedaan getarannya. Karena semua sama, berarti dalam alam semesta semua tersusun oleh materi yang sama, namun memiliki getaran yang berbeda.
  2. Dimana posisi aku dalam materi yang terlihat sebagai orang/manusia. Oke... dimulai dengan pertanyaan apakah ketika tangan hilang akunya masih ada....? jawabnya masih. Apakah bila kaki hilang, akunya masih...? jawabnya masih. Bahkan ketika operasi organ tubuh bagian dalam sedang berlangsung, misal dengan membawa keluar jantung untuk diganti dengan yang baru... akunya tetap masih ada. Lihat saja ketika operasi berjalan dengan baik sehingga orangnya masih hidup... maka pada saat jantungnya berada diluar tubuhpun akunya masih... Berarti aku bukan organ tubuh atau materi. Jadi aku lebih dari sekedar kumpulan kulit, daging, tulang, cairan, udara, dll. Aku ini adalah substansi yang lebih tinggi yang menjelma secara fisik menjadi tampak seperti ini (lihat cermin). Tampaknya “aku” juga yang mengendalikan semua gerakan, misalnya seperti sel-sel tubuh membelah diri, kebelet, bernafas, penyembuhan luka dll. Oleh karenanya “aku” adalah sebuah kekuatan super yang berkerja otomatis, bahkan ketika kita menggerakkan tangan sekalipun... rangkaian perintah diterjemahkan melalui syaraf otot yang kemudian tampak bergerak. Hebatnya semua kerja itu tidak tampak / terlihat oleh mata. Dan apakah “aku” kesulitan menjalankan itu semua. Tampaknya tidak... semua mudah. Jadi, mengapa kita sering merasa ada yang tidak mudah... apa sebabnya...?. Ach... itu kan dilihat secara internal (dalam tubuh saja)... bagaimana dengan interaksi dengan eksternal?, apakah aku juga bergerak otomatis...? OK, coba saja lihat bagaimana kebutuhan oksigen itu masuk ke tubuh, apakah udara mesti dipaksa agar masuk? Tampaknya tidak.. hingga sangat terlihat bahwa udara yang diluar tubuh dengan mudah menjadi bagian kehidupan kita dan mau masuk untuk membakar karbohidrat yang ada dalam tubuh.
  3. Jadi, sesungguhnya, kehidupan itu mudah. Lihat pohon.... dia juga tumbuh begitu saja... tak ada paksaan (yang memaksa tumbuh). Juga lihat pertumbuhan kita mulai dari embrio, bayi, anak-anak, remaja, tua, selalu tumbuh begitu saja, juga tanpa paksaan, bergerak begitu saja. Saking mudahnya pertumbuhan dalam kehidupan, hingga kita perlu menciptakan pandangan / persepsi / tindakan tentang hidup yang sulit. Saking mudahnya hingga kita membuat kesulitan sendiri, agar hidup nampak menantang, berat, sulit, rumit, mengesalkan, melelahkan, dll. Coba saja renungkan... mengapa kita mengira sesuatu itu sebuah kesulitan dan cek ke orang lain adakah orang lain yang memandang sebaliknya?. Biasanya ada. Hebat kan...? Ingat kata bijak Shakespeare “Tidak ada yang baik atau buruk kecuali pikiran membuatnya demikian”. Pada dasarnya hidup itu mudah (bentuk aslinya mudah), hingga kita membuat kesulitan sendiri dengan pikiran kita. Jadi dengan demikian, pikiran kitalah yang menilai sesuatu adalah sebuah kesulitan. Boleh disebut juga bahwa sesuatu yang buruk ataupun sesuatu yang baik itu hanya sepikiran jauhnya.
  4. Aku, suatu sebutan yang dipakai oleh saya untuk menyebut diri saya sendiri, juga oleh orang lain serta oleh Tuhan ketika menyebut diriNya sendiri. Meskipun hanya kata, namun menurut pandanganku, hal ini memiliki makna yang dalam. Aku bisa dipahami melalui dua cara: a). Aku pertama, yaitu aku yang masing-masing terpisah atau berdiri sendiri atau aku saya tak terhubung dengan aku orang lain, apalagi dengan Tuhan; b). Aku kedua, yaitu aku yang memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga masing-masing terhubung. Pemahaman aku pertama tampaknya menjadi pengertian umum sedangkan pemahaman yang kedua menjadi hal baru yang sepertinya tidak mudah untuk dimengerti dan biasanya ketika pemahaman belum sampai, akan menimbulkan reaksi penolakan, misalnya dengan pertanyaan: “Kok bisa?”;”Mana mungkin?” dll, disertai rasa tidak enak dihati. Dan saya berpikir bahwa flora dan fauna bahkan benda matipun akan menyebut dirinya sendiri dengan “aku”. So.... selanjutnya bagaimana?. Kemungkinan  terbesarnya adalah ketika aku dipahami melalui sudut pandang pertama maka akan diikuti pengertian egois atau mementingkan diriku masing-masing secara dangkal, sedangkan ketika aku dipahami dengan cara kedua (lebih dalam), maka akan diikuti oleh perilaku empatik yang saya kira itu merupakan bentuk asli kehidupan, yaitu ada saling keterkaitan satu sama lain.

Jadi, pelajaran apa yang dapat diambil dari keempat hal diatas?. Mungkin seperti ini :
Adakah yang bisa dipadukan dari potongan pengertian diatas? Barangkali seperti ini:
Sepantasnyalah jika “aku” ini hebat, sehingga memungkinkan setiap “aku” untuk menemui kehidupan dengan mudah, karena terhubung dengan semua resourcess yang berada pada level kuantum. Bagi orang-orang seperti saya yang masih mengira bahwa kehidupan itu tidak mudah, bahwa untuk menaikkan taraf kehidupan seperti yang diimpikan itu tidak mudah... (dll, sebut saja sendiri)... perlu berpikir ulang. Ingat... bahwa situasi yang disebut baik atau buruk adalah produk pikiran. Dengan kata lain, untuk situasi yang sama, dapat dipandang sebagai situasi yang baik oleh seseorang dan dipandang sebagai situasi yang buruk oleh orang lainnya.

Karena semestinya hidup ini mudah, dan dari sononya memang didesain demikian, maka setiap “aku” memiliki kekuatan hebat dan selayaknya mampu mewujudkan apapun bentuk pertumbuhan kehidupan yang bisa dipikirkan untuk dijalani. Karena “aku” terhubung dengan semua, hingga semua (seluruh penghuni semesta) akan membantu mewujudkan impian kita. Satu-satunya penghambat adalah pikiran kita yang mengatakan hidup itu tidak mudah.

Maka segeralah mempunyai pikiran tentang kemudahan kehidupan. Lalu caranya bagaimana... ya.... mulailah berpikir bahwa hidup itu mudah, dan pikirkan hal itu terus menerus. Boleh juga disertai ucapan. Sampai kapan... sampai dapat ... sampai bisa, sampai kita menyaksikan bahwa kehidupan ini mudah adanya.
Mudah-mudahan bermanfaat...

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Emangnya Gue Pikirin

Sering kita mendengar kata-kata agar kita menggunakan daya pikir kita. Contoh : “mbok yo mikir to”. Padahal, tanpa dimintapun kita selalu mikir. Nah... dari konteks ini, sepertinya yang dimaksud adalah agar kita menggunakan kekuatan alat pikir dengan benar atau berpikiran benar. Kalau demikian, bagaimana ceritanya sampai dengan kita dapat berpikir secara benar.

  1. Dipahami bahwa sering kita menunjuk ke arah kepala (dimana otak berada) dikala sedang berpikir. Sepertinya pikiran ada disana. Perlu diketahui bahwa ketika otak dibelah, disana tidak ada apapun yang dapat terbaca sebagai sebentuk pikiran, kecuali materi otak itu sendiri. Jadi otak hanya sebagai alat. Lantas dimanakah pikiran itu berada? Mungkin tak seorangpun bisa dengan persis menunjukkan letaknya. Atau dengan kata lain pikiran bersifat gaib, bahkan spiritual.
  2. Kita lihat definisinya dulu (coba cek di kamus besar bahasa Indonesia)
    1. Pikir (kata benda/noun): akal budi, ingatan, angan-angan. Sepertinya hal ini menunjukkan bahwa ada semacam gudang (suatu tempat) yang terpisah dengan otak secara fisik. Tempatnya dimana.... itulah misterinya.
    2. Berpikir (kata kerja/verb): menggunakan akal budi.
    3. Pikiran (kata benda/noun): hasil berpikir
    4. Berpikiran (versi sendiri): hasil kerja akal budi terhadap suatu peristiwa, keadaan, situasi tertentu.
    5. Hasil kerja akal budi itu rasanya dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu berupa pemahaman (semacam memahami dengan menarik data yang telah ada dalam gudang ingatan) dan penilaian (semacam: baik-buruk; benar-salah; indah-jelek; susah-senang) terhadap suatu peristiwa. Inilah yang jadi titik pentingnya.

Selanjutnya, suatu hasil kerja akal budi menjadi sebuah pemahaman karena bebas dari penilaian yang umumnya dilanjutkan dengan keterlibatan emosi, artinya bila dinilai baik, emosinya ikut baik dan sebaliknya. Maksud dari keterlibatan emosi yaitu pada saat akal budi bekerja dengan penilaian, dilanjutkan bekerjanya emosi, entah itu emosi positif atau negatif. Karena cepatnya proses, maka tampak emosi muncul seperti dalam waktu yang bersamaan dengan saat akal budi bekerja.

OK, lantas konkritnya dalam kehidupan seperti apa?

Kita lihat contoh situasi/peristiwa berikut:

  1. Bagaimana kerja pikiran bila menghadapi soal ujian. Pikiran bekerja hanya menyangkut menggali ingatan dari data yang telah masuk melalui otak, entah berupa rumus, hafalan IPS, IPA, atau ilmu apapun. Rasanya berasal dari dalam atau menggali simpanan di gudang, rasanya landai dan sepertinya nyaman karena tanpa melakukan penilaian entah benar atau salah dalam pengerjaan soal ujian.
  2. Bagaimana kerja pikiran menghadapi peristiwa kehidupan yang dipersepsikan (misalnya) negatif, seperti melanggar aturan (terpaksa/tidak), terlibat atau melihat kecelakaan, ejekan, makian, kelaparan, bisnis belum seperti yang diharapkan, dll. Umumnya pikiran segera melakukan analisa dan rasanya tanpa menarik apapun dari gudang, seperti otomatis. Bahkan sering hasilnya berupa penilaian.

Dari contoh tersebut, seandainya saja pada saat pikiran kita disodori peristiwa kehidupan, terus pikiran kita dapat diarahkan hanya bekerja sebagaimana bila disodori soal ujian, kira-kira apakah yang bakal terjadi? Kenapa? Karena menurut beberapa literatur menyebutkan bahwa pikiran kita dibawah kendali kita, artinya bisa diperintah untuk bekerja sebagaimana yang kita kehendaki.

Jadi, mungkinkah berpikiran benar dapat diartikan bahwa kita sebaiknya menggunakan akal budi dengan maksud tanpa melakukan penilaian?. Jadi, kata-kata “Mbok yo mikir to”, berarti kita hanya perlu mengendalikan diri untuk berhenti (tidak tergoda untuk segera mempersepsikan sesuatu dengan hasil berupa sebuah nilai). Itu mungkin yang disebut pengendalian diri atau berpikir benar.

Ada juga yang bilang “Berhentilah berpikir, atau ra sah mikir”, jangan-jangan ini juga mengandung kebenaran, bila dikaitkan dengan maksud dilarang berpikir sebagai bentuk analisis yang hasil akhirnya menilai. Katakan saja jenis mikir ini adalah pikiran luar sedangkan mikir tanpa menilai termasuk jenis pikiran dalam.

Bingung?.... ya silahkan bingung aja, emangnya gue pikirin. Tongue out

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Ndableg Istimewa

Dimulai dari pemahaman terhadap (misalnya) tumbuhan yang selalu tumbuh tanpa pernah khawatir. Dilanjutkan dengan pengamatan terhadap tumbuhan yang selalu bisa menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, juga tanpa khawatir. Hebatnya lagi, makhluk itu (tumbuhan) tidak tumbuh dibawah tekanan (paksaan), atau tumbuh begitu saja (alamiah), tentu saja tanpa khawatir. Disamping itu, menurut teori pikirannya Mr. Wallace D Wattle, yang menyatakan bahwa sebenarnya semesta bermain pada tataran pikiran, maka hanya karena tingkat pikiran manusia saja yang setingkat lebih tinggi dari makhluk lain, maka ketika digunakan secara sembarangan, sok-sok timbul efek negatif seperti khawatir dan teman-temannya. Dengan kata lain, jika pikiran manusia yang hebat telah didayagunakan dengan baik, maka manusia dapat tumbuh lebih hebat lagi, karena bekerja nyaman, tanpa kekhawatiran. Coba lihat bahwa planet bumi yang dihuni manusia yang mungkin masih sering mengkhawatirkan segala sesuatunya, ternyata dari pandangan positivisme dikatakan planet bumi terus dan akan selalu bergerak maju.

Konklusi sederhana dari kedua hal diatas adalah : jika segalanya berawal dari pikiran maka pikiran menjadi sumber penciptaan. Jadi, ketika segala sesuatu yang terjadi merupakan hasil lebih lanjut dari pikiran kita, maka segala bentuk kekhawatiran yang muncul, juga merupakan hasil dari olah pikir kita. Lantas apa yang perlu dipahami? Kiranya tulisan berikut membuahkan pemahaman baru untuk mengurangi bahkan mengeliminasi rasa khawatir.

To make a long story short, maka dibuat resumenya saja, lebih kurang sebagai berikut:

1 Mengakui secara jujur (mengakui karena paham) bahwa kita belum memakai kekuatan pikir secara benar adalah merupakan langkah awal. Selanjutnya, jika kekuatan berpikir kita 100%, maka bayangkan bila kita telah menggunakan kekuatan  berpikir > 50%, maka kehidupan telah dipenuhi kelimpahan (materi dan non materi). Dan ketika masih muncul kekhawatiran....... artinya kemampuan berpikir kita masih < 50%. Darimana angka 50% ?. Bila sempurna itu 100%, maka tidak sempurna itu berada pada titik 0%. Bukan negatif. Artinya angka 0% - 50% berarti pikiran didominasi hal-hal yang negatif sedangkan 51% - 100% itu kondisi pikiran yang didominasi pikiran positif, dan angka 50% disebut turning point-nya. Lah.... terus bagaiamana mengetahuinya apakah sudah > 50% atau belum. Jawab : kita dengan sendirinya akan mengetahui, memahami dan merasakannya bila memang telah berkemampuan > 50%.

2 Bila di lihat dari pemilahan potensi berpikir yang terdiri dari : 12 % pikiran sadar (fisik) dan 88 % pikiran bawah sadar (mental), maka sepertinya kita cenderung memakai potensi yang 12 % saja dan tidak full, hasilnya hidup belum sesuai harapan..... dengan kata lain masih khawatir. Mungkin ketika benar-benar memakai potensi yang 12 % secara maksimal, bisa jadi memiliki kehidupan ala Firaun, kaya raya, menjadi penguasa, diktator, ditakuti, main pukul, pinter sihir, dll. Jika kita belum sehebat Firaun, bolehlah diartikan bahwa kita belum menggunakan semua potensi yang 12 %  (malah mungkin < 1 %). Karena situasi lingkungan kita berbeda dengan lingkungan Firaun, maka tentu saja lebih masuk akal untuk belajar menggunakan kekuatan mental yang 88 %. Kenapa? karena banyak nasehat yang menitikberatkan agar belajar memakai kekuatan mental. Contoh: anjuran untuk hal-hal yang berkaitan dengan mental seperti cinta, jujur, bahagia, empati, asertif dll. Yaitu memahami sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara fisik. Menurutku Firaun itu hanya menggunakan keseluruhan potensi pikir yang fisik saja (12%), karena potensi mentalnya tidak tergarap baik (menurut cerita dia memiliki sifat adigang, adigung, adiguna).

3 Tantanglah segala hal yang membuat khawatir, misal omongan orang, si bos atau bahkan orang-orang terdekat sekalipun, yang biasanya bertemu saja malas, apalagi mendengarnya... Sekarang, niatkan untuk mendengarnya, dan niatkan untuk menatap matanya sambil menyelidiki mananya yang membuat khawatir. Kemudian pertanyakan kepada diri sendiri “Apa iya.....perkataannya membuat aku khawatir”, “Apa iya omongannya 100% benar”. Jadikan fokus kita bukan pada apa yang disampaikan, tapi lebih pada diri sendiri terutama di pikiran. Lalu.... perhatikan .... benar-benar perhatikan pikiran kita. Agar kita tahu bahwa ada pikiran kita yang berkata “Lihat.... betapa benar omongannya, kau memang salah, tak berharga, jelek, tanpa prestasi, otak udang, dll”. Dan hasil dari memperhatikan pikiran sendiri membawa pemahaman bahwa ternyata bukan karena omongan orang lain yang membuat khawatir, tapi karena pikiran kita yang membentuknya. Jadi bukan orang lain yang membuat khawatir tapi diri kita sendiri. Weleh...... Tapi, bagaimana jika orang lain benar-benar mengatakan hal-hal negatif tentang diri kita? Pertanyakan kemudian..... apa benar kita sebodoh yang diomongin orang, dengan mengingat komponen otak setiap orang sama persis. Itu artinya kita tidak menyetujui ketidakbenaran yang diomongkan dan justru memahami potensi diri sendiri. Sebaliknya jika menyetujui omongan orang yang negatif itu, yang terjadi selanjutnya adalah pikiran akan melipat gandakan kenegatifannya. Perhatikan juga bahwa pikiran kita otomatis bicara “benar khan aku jelek, nyatanya orang lain menilai seperti itu”. Jadi ada dua kali pikiran jelek, 1 dari orang lain dan 1 dari diri sendiri maka disebut dilipatgandakan. Kemungkinan hasilnya adalah khawatir yang berlipat.

4 Jika itu uang yang membuat khawatir, maka tantanglah uang itu, pelototi dompet, ATM, tempat belanja, kemewahan lain yang diinginkan atau apa saja yang berkorelasi langsung dengan uang.... mananya yang membuat khawatir .... kecuali pikiran keliru kita yang berkata “Lihat.... betapa mustahilnya dompetmu, ATMmu, terisi uang untuk belanja-belanja sesuai kebutuhan atau bahkan keinginan”. Selanjutnya, cobalah untuk benar-benar memperhatikan dompet/ATM kita, apakah setelah uang digunakan maka dompet/ATM kita terisi kembali ? Bila kita paham kalau dompet/ATM kita selalu terisi kembali,...... barangkali itu sebagai salah satu cara kita untuk bersyukur.

Jadi hentikanlah pikiran keliru itu, atau gak usah mikir. Yang ini disebut Ndableg Istimewa. Lho .... koq ndableg ? Ya iya lah...... coba lihat, betapa seringnya kita menuruti atau menyetujui pikiran keliru kita. Dan sekarang, kita menolaknya, jadi: ndableg yang ini adalah untuk tidak mengikuti pikiran keliru kita. Artinya, dengan kesadaran terhadap kekeliruan kita, segeralah bertindak untuk berpikir tentang kebenaran dengan disertai bukti-bukti yang menguatkan pikiran. Mudah-mudahan, usai sudah kekhawatiran dan digantikan oleh kenyamanan. Habis gelap terbitlah terang. Try it at home.

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Keyakinan : Energi Maha Dahsyat

Kunci memahami kehidupan dalam dimensi waktu dan ruang adalah memahami bahwa semua ini (realitas kekinian) berasal dari dunia magis dalam diri kita sendiri yang kita ciptakan melalui keyakinan kita. Artinya...... ? Bila seseorang belum mendapat kehidupan idaman, hal tersebut hanya berarti bahwa telah terjadi ketidakselarasan antara harapan,  niat baik dengan keyakinan yang dimiliki.
Contoh: bila seseorang berniat mendapatkan kemudahan menemukan materi yang menunjang kehidupan, namun keyakinannya mengatakan “Ah.... mana mungkin aku bisa, karena aku pangkatnya rendah, bukan pejabat, pendidikan formal rendah, dll”.

Rahasia untuk hidup seperti yang diidamkan adalah mengetahui/menyadari/memahami bahwa lebih banyak terjadi peristiwa yang menguntungkan kita dibandingkan dengan yang dapat diketahui oleh pancaindra, dan cara mengetahuinya adalah lewat keyakinan. Inilah ujian tersulit kita; mengetahui bahwa kita adalah makhluk spiritual, meski tidak ada bukti fisik.

JIKA sulit adalah fungsi kurangnya ilmu, maka ilmu apa yang harus dipelajari? Agar diperoleh keyakinan?.
JAWAB : Ilmu dipelajari agar kita paham, jadi intinya ada pada dimilikinya pemahaman yang terus dipegang cukup lama hingga berubah menjadi keyakinan. Jika semua orang telah memiliki keyakinan yang menciptakan realitas kekinian, maka apabila realitas belum sesuai dengan harapan, maka keyakinan lamanya adalah keyakinan yang membatasi dan perlu diganti dengan keyakinan baru yang memberdayakan. Jadi ilmu yang dipelajari adalah ilmu tentang cara terbentuknya keyakinan serta bagaimana mengubah keyakinan yang membatasi menjadi keyakinan yang memberdayakan yaitu keyakinan yang selaras dengan harapan atau niat baiknya.

Lebih jauh cara mendapatkan keyakinan baru yang dibutuhkan adalah dengan pemahaman/memahami seutuhnya tentang kerja alam semesta, karena dengan itu keyakinan lama yang membatasi akan runtuh.

Tuliskan komentar (1 Comment)

Bangsa Kasihan

Membaca tulisan pujangga sekaliber Kahlil Gibran, disamping mengasyikkan, nampaknya para pembacanya terbawa pada situasi untuk dapat menemukan pemahaman baru bahkan memacu ide-ide baru. Salah satunya adalah tulisan tentang Bangsa Kasihan yang diambil dari buku Cinta, Keindahan dan Kesunyian. Berikut adalah petikannya:

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak peras.

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu (gairah) dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filsufnya gentong nasi, dan senimannya tukang sambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.

Berbagai persepsi muncul karena membacanya. Banyaknya persepsi memicu munculnya reaksi yang banyak pula. Ada yang cemberut, senyum simpul, dahi mengkerut, datar-datar saja, tertawa, dan ada yang tercerahkan.
Nah.... setelah penjenengan membacanya, kiranya, apa yang terjadi ya? Mudah-mudahan hal positiflah yang terjadi, sehingga maksud penulis akan tersampaikan.

Tuliskan komentar (0 Komentar)

Mengapa Kita Punya Problem ?

Tak seorangpun secara sadar memilih mengubur dirinya dengan sesuatu yang diyakininya akan menyakiti dirinya. Jadi, adanya masalah adalah karena sesuatu dimasa lalu yang diharapkan terjadi namun kejadiannya tidak sesuai harapan. Kondisi tersebut secara otomatis terekam di alam bawah sadar, berurat berakar (karena dipikirkan terus plus diberikan emosi lebih) hingga muncul dikemudian hari sebagai yang disebut problem.

Jadi carilah di alam bawah sadar, sebab/kondisi/situasi apa yang menyebabkan kesulitan.

Contoh : kesulitan finansial atau pekerjaan umumnya disebabkan karena sifat inferior, yaitu kondisi ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang, ada perasaan ketidakmampuan/ketidakcukupan. Dari sini dapat dikatakan induk dari segala persoalan hanya ada satu yang mesti diselesaikan, yaitu hubungan personal.

Apa bentuknya? Dendam.

Meskipun kadang tidak mengakui/terpikirkan, namun hasil penelitian untuk orang yang belum berkembang biasanya memiliki dendam kepada lebih dari 200 orang. Terapinya adalah maafkan semuanya secara berurutan dari nama yang paling didendami, lalu diakhiri dengan semoga Tuhan memberkatimu. Segera lakukan setiap hari sampai akhirnya dada terasa lapang.

Proper Thingking
Jadi senyatanya hanya masa kini (sekarang) yang dikenal. Dan waktu (masa lalu, besok) hanyalah ilusi. Jadi satu-satunya peristiwa yang kita ketahui adalah peristiwa yang sedang dialami. Pada saat itulah pikiran kita tune in (sedang berada/terkonsentrasi/terfokus) pada peristiwanya. Jadi, meskipun tubuh sedang beristirahat dengan nyaman, namun pikiran sadar, bawah sadar tetap bekerja.

Kita sering mengacaukan pikiran kita. Dan ini adalah hal yang paling meracuni yang kita lakukan pada diri sendiri. Misal dengan masalah waktu. Senyatanya, pada tataran bawah sadar tidak mengenal waktu. Waktu hanyalah ukuran pada fisik di alam sadar. Yaitu sebuah konsep yang muncul ketika memindahkan sesuatu pada  suatu ruang. Ketika ragu coba perhatikan waktu yang terjadi pada saat menunggu (tampak berjalan lambat) dan waktu yang terjadi pada saat menyenangkan (tampak bergerak cepat).

Kesalah pahaman antara pikiran sadar yang senang mengembara dari masa lalu ke masa depan dengan pikiran sadar yang hanya tahu sekarang, menyebabkan orang tertekan.

Jadi, jika kita tidak mampu berpikiran utuh (selarasnya pikiran sadar, bawah sadar dan super sadar) pada suatu hal tertentu pada momen/waktu tertentu, hidup kita tak akan kemana-mana. Buat prinsip untuk diri sendiri bahwa apapun yang  dilakukan selalu dikerjakan dengan istimewa (terfokus) sehingga kegiatan itu mendapat perhatian penuh. Berlatihlah sampai proses ini menjadi kebiasaan. Hasilnya adalah pemikiran yang jernih, original, produktif tanpa tekanan. Karena kita telah memfokuskan pemikiran dan emosi pada satu titik. Kita tak lagi hidup dengan masa lalu dan keluar masa depan.

Apakah tidak boleh merencanakan masa depan. Tentu saja boleh jika perencanaan disertai positive idea and good feeling yang berarti kita menyemai hal baik di pikiran bawah sadar kita. Ingat pikiran bawah sadar hanya akan menindaklanjuti yang diperintahkan, tidak peduli baik atau buruk masukannya.

Jadi ketika kita belajar hidup dengan menyelaraskan antara pikiran sadar, bawah sadar dan super sadar pada tempat dan waktu yang sama, maka kita belajar mengontrol  nasib sendiri.

Apa yang harus dipelajari ?

  1. Belajar rileks, santai adalah menghentikan rasa kesusu. Semesta tak pernah kesusu. Gunakan 5 menit di awal atau akhir hari kita, lalu kontrol tubuh kita dengan cara meditasi sampai dengan tubuh merasa rileks. Itu cara kita memasuki pikiran bawah sadar kita dengan asupan yang baik. Dengan pengertian saya adalah jiwa, maka tubuh sebagai pakaiannya, jadi usahakan belajar memakai tubuh sebagaimana kita berpakaian. Jadi relaksasi setara dengan pakaian yang halus, lembut dan wangi.
  2. Konsentrasi-meditasi, konsentrasi  adalah menjadi tertarik pada subyek tertentu serta kita memberikan perhatian penuh kepadanya. Ketika konsentrasi penuh pada Tuhan itu disebut berdoa/meditasi. Apa maksud meditasi ? yaitu ketika kita ambil sebuah pikiran/ide, tentu yang positif seperti apa yang kita pikir tentangTuhan. Nah ini susahnya, karena kita terlalu mudah tinggal dalam pikiran negatif (problem). Pikirkan juga apa arti Tuhan bagi kita dan apa arti kita bagi Tuhan. Meditasi sebaiknya memeditasikan aspek Tuhan yang penting bagi kita untuk membangun kehidupan di alam sadar/bawah sadar. Beberapa aspek penting dari Tuhan yang sering digunakan dalam meditasi. Jika ingin sehat, meditasikan Tuhan adalah kehidupan, jika kekurangan meditasikan tentang kebenaran/jiwa, jika kesulitan dalam berhubungan dengan manusia meditasikan tentang cinta, jika takut dan uzur meditasikan spirit, jika butuh pencerahan dalam pengambilan keputusan meditasikan kebijaksanaan, ketika sesuatu tampak stagnan meditasikan kuasa hukum alamnya.

 

Proper thingking

Jadi senyatanya hanya masa kini (sekarang) yang dikenal. Dan waktu (masa lalu, besok) hanyalah ilusi. Jadi satu-satunya peristiwa yang kita ketahui adalah peristiwa yang sedang dialami. Pada saat itulah pikiran kita tune in (sedang berada/terkonsentrasi/terfokus) pada peristiwanya. Jadi, meskipun tubuh sedang beristirahat dengan nyaman, namun pikiran sadar, bawah sadar tetap bekerja.

Kita sering mengacaukan pikiran kita. Dan ini adalah hal yang paling meracuni yang kita lakukan pada diri sendiri. Misal dengan masalah waktu. Senyatanya, pada tataran bawah sadar tidak mengenal waktu. Waktu hanyalah ukuran pada fisik di alam sadar. Yaitu sebuah konsep yang muncul ketika memindahkan sesuatu pada suatu ruang. Ketika ragu coba perhatikan waktu yang terjadi pada saat menunggu (tampak berjalan lambat) dan waktu yang terjadi pada saat menyenangkan (tampak bergerak cepat).

Kesalah pahaman antara pikiran sadar yang senang mengembara dari masa lalu ke masa depan dengan pikiran sadar yang hanya tahu sekarang, menyebabkan orang tertekan.

Jadi, jika kita tidak mampu berpikiran utuh (selarasnya pikiran sadar, bawah sadar dan super sadar) pada suatu hal tertentu pada momen/waktu tertentu, hidup kita tak akan kemana-mana. Buat prinsip untuk diri sendiri bahwa apapun yang dilakukan selalu dikerjakan dengan istimewa (terfokus) sehingga kegiatan itu mendapat perhatian penuh. Berlatihlah sampai proses ini menjadi kebiasaan. Hasilnya adalah pemikiran yang jernih, original, produktif tanpa tekanan. Karena kita telah memfokuskan pemikiran dan emosi pada satu titik. Kita tak lagi hidup dengan masa lalu dan keluar masa depan.

Apakah tidak boleh merencanakan masa depan. Tentu saja boleh jika perencanaan disertai positive idea and good feeling yang berarti kita menyemai hal baik di pikiran bawah sadar kita. Ingat pikiran bawah sadar hanya akan menindaklanjuti yang diperintahkan, tidak peduli baik atau buruk masukannya.

Jadi ketika kita belajar hidup dengan menyelaraskan antara pikiran sadar, bawah sadar dan super sadar pada tempat dan waktu yang sama, maka kita belajar mengontrol nasib sendiri.

Apa yang harus dipelajari ?

1. Belajar rileks, santai adalah menghentikan rasa kesusu. Semesta tak pernah kesusu. Gunakan 5 menit di awal atau akhir hari kita, lalu kontrol tubuh kita dengan cara meditasi sampai dengan tubuh merasa rileks. Itu cara kita memasuki pikiran bawah sadar kita dengan asupan yang baik. Dengan pengertian saya adalah jiwa, maka tubuh sebagai pakaiannya, jadi usahakan belajar memakai tubuh sebagaimana kita berpakaian. Jadi relaksasi setara dengan pakaian yang halus, lembut dan wangi.

Konsentrasi-meditasi, konsentrasi adalah menjadi tertarik pada subyek tertentu serta kita memberikan perhatian penuh kepadanya. Ketika konsentrasi penuh pada Tuhan itu disebut berdoa/meditasi. Apa maksud meditasi ? yaitu ketika kita ambil sebuah pikiran/ide, tentu yang positif seperti apa yang kita pikir tentangTuhan. Nah ini susahnya, karena kita terlalu mudah tinggal dalam pikiran negatif (problem). Pikirkan juga apa arti Tuhan bagi kita dan apa arti kita bagi Tuhan. Meditasi sebaiknya memeditasikan aspek Tuhan yang penting bagi kita untuk membangun kehidupan di alam sadar/bawah sadar. Beberapa aspek penting dari Tuhan yang sering digunakan dalam meditasi. Jika ingin sehat, meditasikan Tuhan adalah kehidupan, jika kekurangan meditasikan tentang kebenaran/jiwa, jika kesulitan dalam berhubungan dengan manusia meditasikan tentang cinta, jika takut dan uzur meditasikan spirit, jika butuh pencerahan dalam pengambilan keputusan meditasikan kebijaksanaan, ketika sesuatu tampak stagnan meditasikan kuasa hukum alamnya.
Tuliskan komentar (0 Komentar)

Tentang Jatidiri

You are a special enterprise on the part of God

(editan dari tulisannya Mildred Mann)

Bagaimana mengetahui jatidiri? Dengan memahami lebih dalam tentang diri kita. Memahami bagaimana kita terbuat, dan kemudian belajar menggunakan kekuatan hebat yang terdapat dalam diri. Kekuatan itu terdapat dalam benak pikiran (mind). Ini terdiri dari 3 bagian.

  1. Pikiran sadar : yaitu bagian dimana kita sibuk, bagian dimana kita menyerap pengetahuan dari dunia luar saat kita terjaga.
  2. Pikiran bawah sadar : yaitu bagian yang membuat kita merasa, yang mengingatkan kita ketika lupa, dan dapat dikatakan sebagai gudang abadi. Semua pengalaman yang pernah terjadi, pikirkan, kerjakan, katakan, cinta, takut, benci, amal baik, dendam, sedekah, dll, lugasnya tidak peduli baik atau buruk akan tersimpan di gudang abadi. Jumlah total dari itu semua membentuk kenampakan kita. Kesehatan, vitalitas dan kenampakan tubuh kita, apa yang kita kerjakan, reaksi kita, ucapan kita adalah cerminan yang ada di dalam pikiran bawah sadar. Jika hal tadi nampak negatif maka buanglah karena cepat atau lambat akan menjadi problem yang buruk. Disamping sebagai gudang, pikiran bawah sadar juga merupakan sumber kekuatan/tenaga dari manusia, berfungsi untuk mencipta ketika pikiran bawah sadar mendapatkan perintah dari pikiran sadar dan berhenti ketika diperintah sebaliknya. Bawah sadar selalu tahu kondisi masa lalu dan masa mendatang sehingga dapat merubah kehidupan kita (positif/negatif) dengan menggantungkan terhadap jenis perintahnya.
  3. Pikiran super sadar : adalah bagian yang terpenting, namun kita hanya punya sedikit pengetahuan tentangnya. Ini bagian pikiran yang memungkinkan kita hidup. Ini yang disebut bagian dari Tuhan. Inilah yang ada pada diri kita yang bila bisa ditemukan maka disebut menemukan jati diri. Jenis Pikiran ini yang memungkinkan kita memiliki kemampuan untuk berfikir, merasa, bergerak, dan kita adalah perwujudanNya (ekspresi keberadaanNya). Ketika yang terdalam menginginkan kita berhasil mewujudkan sesuatu, maka akan mewujud/ muncul ke alam fisik, melalui bagian bawah sadar dan sadar kita sampai dengan terjadi perwujudan lainnya. Jika hasrat kita dapat menyatu dengan kuat denganNya, tentu saja pikiran super tidak hanya sekedar memberi hidup (seadanya). Jadi, jika kita lebih mencari yang memberi daripada pemberianNya itu sendiri, maka kita dapat menemukanNya dan kemudian kita akan paham bahwa ketika menyatu dengan si pemberi maka kita memiliki semua pemberian.

Kunci untuk menggunakan ketiganya adalah agar pikiran sadar terkoneksi dengan bawah sadar maka tambahkan emosi dan selanjutnya agar terhubung dengan pikiran super sadar sertakan hasrat. Hasil yang maksimal diperoleh jika ketiganya selaras artinya jika menurut pikiran sadar menginginkan hasil positif maka tambahkan kekuatannya dengan emosi positif dan sertakan hasrat yang positif pula. Hasilnya menjadi memungkinkan perwujudannya menjadi sangat fenomenal. Dan hebatnya kita punya ketiganya, hanya mungkin belum pandai menggunakannya.

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah "Mengapa Kita Punya Problem ?", nah untuk membahas lebih lanjut mengenai masalah ini, nantikan edisi e-Learning berikutnya.

Tuliskan komentar (1 Comment)
TOP